Sukabumi | Tinta Merah.net – Tersusun dengan rapi deretan pagar bambu berdiri anggun, pohonpun dibalut kain hitam dan putih di pinggir jalan, menambah suasana seperti diluar wilayah desa Sukajaya,sementara lampu hias dari anyaman bambu menggantung berjejer di atas jalan desa. Suasana itu kini menyambut setiap orang yang melintas di Jalan Raya Ciaul Pasir, Desa Sukajaya, Kecamatan Sukabumi.
Dari jalan biasa yang dulu sepi, kawasan ini menjelma jadi destinasi wisata budaya yang ramai dikunjungi,16/11/2025.
Pelataran beserta jalan Desa Sukajaya disulap penuh nuansa etnik sepanjang 200 meter.Warga yang melintas tak lagi sekadar lewat, tapi banyak yang berhenti untuk sekedar berswa foto atau sekadar menikmati suasana asri perkampungan.
Deden Gunaefi Kepala Desa Sukajaya menjelaskan “Awalnya sederhana, hanya untuk memperindah desa. Tapi ketika dikerjakan, banyak masukan, akhirnya kita adopsi konsep Lembur Pakuan Pak Gubernur Jabar yang sempat viral. Kebetulan desa ini kaya bambu, jadi kita manfaatkan potensinya,”ujarnya.
“Kita sosialisasikan ke masyarakat supaya bambu ini tidak hanya untuk kerajinan, tapi juga mempercantik desa. Kalau bisa bukan hanya 200 meter, tapi 500 meter bahkan 1 kilometer,”ungkapnya.
Pembangunan nya pun dilakukan secara gotong royong. Perangkat desa, karang taruna, hingga sembilan ketua RW ikut turun tangan. Ada yang memotong bambu, memasang pagar, hingga menata jalan. “Semua warga terlibat, sesuai motto desa kita Tikukur, Ti Urang, Ku Urang, Keur Urang,” tambahnya.
Wajah baru Desa Sukajaya pun cepat viral di media sosial. Banyak pengunjung berdatangan, dari warga sekitar hingga konten kreator luar daerah. Bahkan ada yang sengaja menginap untuk membuat konten.
“Waktu kita coba bikin stand UMKM, hasilnya luar biasa. Warga jual gorengan, cilok, kopi, sampai hasil kebun. Ekonomi jadi berputar. Ini bukti kecil kalau desa bisa berkembang dari kreativitas warganya,” jelasnya.
Menariknya, seluruh pembangunan ini tidak mengandalkan dana besar. Dari 2.000 batang bambu yang terpasang, semuanya berasal dari swadaya masyarakat dan dukungan pengusaha lokal. Ada yang menyumbang bambu, lampu, hingga pasir.
“Kalau dihitung nilainya bisa puluhan juta. Tapi ini semua lahir dari semangat gotong royong,” ucapnya.
Desa Sukajaya sudah diproyeksikan jadi destinasi wisata budaya berbasis masyarakat. Ke depan, desa ini berencana menghadirkan kafe tradisional, kebun anggur, hingga konsep makan liwetan tempo dulu dengan kayu bakar.
Sejumlah warga yang berkunjung mengaku kagum dengan perubahan wajah Desa Sukajaya. Mereka nampak menikmati suasana baru di desa tersebut sambil berswafoto.
Siti (35)warga sekitar mengatakan “Sekalian jalan-jalan, bagus, tertib juga. Kebetulan habis senam di Lapang Merdeka, saya mampir bareng teman temen dari sanggar lihat Dari medsos lihat foto, terus penasaran datang. Nuansanya alami sekali”ungkapnya.( Iwan/Rin)

